Dampak Mengerikan Tarif Trump 32% bagi Perekonomian Indonesia

Pada Juli 2025, Presiden Trump mengancam mengenakan tarif tinggi sebesar 32% terhadap produk ekspor Indonesia (embedded in “reciprocal tariffs” policy) The GuardianThe White House. Sektor-sektor ekspor utama seperti elektronik, tekstil, alas kaki, dan CPO menjadi target utama, berisiko meningkatkan biaya dan menurunkan daya saing produk lokal di pasar AS ReutersTempo.

Respons pemerintah Indonesia cepat: melalui negosiasi, akhirnya tarif diturunkan menjadi 19%. Sebagai imbalannya, Indonesia menyetujui pembelian 50 unit pesawat Boeing, USD 15 miliar minyak/energi, dan USD 4,5 miliar produk pertanian dari AS ReutersSetkabASEAN Briefing. Menteri Airlangga Hartarto menyebut tarif ini bisa mulai berlaku lebih cepat dari rencana awal Agustus Reuters.

Pasar menyambut baik kesepakatan ini: Bursa Jakarta dan rupiah menunjukkan stabilitas setelah pengumuman Reuters. Namun, meski lebih rendah, tarif 19% tetap membebani eksportir; harga harus disesuaikan dan profitabilitas diperhitungkan ulang ASEAN Briefing.

Efek makro juga nyata: Kementerian Keuangan memperkirakan bahwa tarif tinggi bisa memangkas hingga 0,5 poin persentase pertumbuhan ekonomi (dari target 5,2%) akibat tekanan perdagangan dan modal keluar Reuters.

Secara regional, kebijakan tarif ini juga mengguncang pasar global: perubahan kebijakan menyebabkan ketidakpastian, dengan banyak negara ASEAN memilih diplomasi ketimbang balas tarif, termasuk Indonesia yang memilih tawar-menawar impor AS ketimbang pembalasan AP News.

Leave a Comment

Scroll to Top